Hariini saya menyaksikan peristiwa patah hatinya seorang penuntut ilmu. Namanya Queenza, ia merupakan salah satu peserta tahfiz Al-Qur'an. Sayang sekali, hari ini Queenza merasakan patah hati, karena dia sudah tidak dapat lagi melanjutkan perjuangannya dalam ajang menghafal Al-qur'an tersebut. Queenza kehilangan fokus. 6“Guru harus dipandang dengan hormat”. ينبغى ان ينظر معلمه بعين الاحترام. Memandang guru dengan penuh hormat, tulus dan percaya akan ilmunya. Maka jika sudah seperti itu, insya allah ilmu akan mudah diserap. Para penuntut ilmu terdahulu, sebelum mereka memulai belajar, mereka memanjatkan do’a untuk guru mereka. Makajika seorang hamba dibimbing kepada adab mencari ilmu, sungguh dia telah menjaga ilmu dengan tali yang kokoh. Buku ini adalah buku panduan adab penuntut ilmu dan pengajar karya Imam Badruddin Ibnu Jama’ah (w. 733 H), seorang ulama madzhab Syafi’i yang sezaman dengan Imam an-Nawawi. Fast Money. JAKARTA - Jabir bin Abdullah sangat tertarik dengan sebuah hadis yang menggambarkan suasana Padang Mahsyar. Ahli hadis terkemuka pada abad ke-1 H itu pun mencoba menelusuri kebenaran sabda Nabi SAW itu. Sayangnya, orang yang meriwayatkan hadis itu telah hijrah dan menetap di Syam kini Suriah. Padahal, Jabir menetap di Hijaz, sekarang masuk wilayah Arab Saudi. Periwayat hadis itu tak patah semangat. Jarak antara Hijaz dan Syam yang begitu jauh, tak menciutkan tekadnya untuk menelisik kebenaran hadis itu. Jabir lalu membeli sebuah unta. Ia pun mengarungi ganasnya padang pasir demi mencapai Syam. Perjalanan menuju kota itu tak cukup sepekan. Ia menghabiskan waktu selama satu bulan untuk bertemu sahabat Nabi SAW yang meriwayatkan hadis yang ingin diketahuinya. Kisah yang termuat dalam kitab al-Adab al-Mufradkarya Imam Bukhari itu, menggambarkan betapa seriusnya para ulama pada zaman dulu dalam mengejar ilmu dan kebenaran. Jarak yang jauh tak menjadi halangan. Jabir merasa bertanggung jawab untuk mengungkap kebenaran dari sebuah hadis yang diketahuinya. Ia mengaku khawatir tak akan cukup umur bila tak segera membuktikannya. Begitu banyak kejadian luar biasa yang dialami oleh para ulama saat mereka menuntut ilmu. Bahkan, adakalanya peristiwa yang dialami para ulama itu di luar kemampuan nalar manusia. Peristiwa yang mereka hadapi pun cukup beragam. Kadang kala, berupa kejadian fisik, bisa pula nonfisik. Beragam peristiwa dalam kehidupan dicatat oleh para ulama melalui karya-karya mereka. Kisah-kisah tentang pengalaman dan peristiwa yang dialami para ulama, seperti kisah perjalanan Jabir dari Hijaz menuju Syam, tertuang secara apik dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Abdul Fattah Abbu Ghaddah. Dalam kitabnya, Abu Ghaddah mengangkat peristiwa dan pengalaman hidup para ulama. Boleh jadi, tema yang diangkat ulama dari tanah Arab itu belum pernah disentuh oleh sejumlah penulis, bahkan ulama salaf zaman dulu sekalipun. Melalui kitabnya yang sederhana itu, Abbu Ghaddah berupaya menggambarkan keteladanan dan ke sungguhan para ulama pada zaman dulu dalam mencari ilmu. Harapannya, tentu saja agar dicontoh generasi Muslim di era modern ini. Abu Ghaddah mengaku, menulis kitab itu bukan tanpa alasan. Semua berawal dari rasa penasaran dan rasa ingin tahunya tentang kiprah ulama dalam mencari ilmu. “Apa tujuan dan manfaat para ahli fikih membahas kasus-kasus yang dalam hitungan akal sehat—atau bahkan, menurut fakta sehari-hari dan kacamata agama—tak pernah dan tak mungkin terjadi?’’ ujarnya. Dalam istilah fikih, kerap disebut dengan fikih nawadir. “Apa gunanya mereka para ulama bersusah payah?” tulis Abu Ghaddah. Dari rasa penasaran itulah, ia melakukan penelusuran. Ia dibuat takjub ketika membaca karya Jurji Zaidan yang berjudul Ajaib Al-Makhluqat, sebuah buku yang mengisahkan tentang keunikan dan peristiwa luar biasa dari makhluk yang hidup di alam semesta. Terlebih, dalam buku itu sang penulis menyertakan beberapa gambar untuk memperkuat informasi yang disajikan. Satu pernyataan Abu Ghaddah pun terjawab. Ternyata, apa yang dibahas oleh para ulama di berbagai disiplin ilmu itu adalah salah satu dari fenomana yang ada di alam semesta. Abu Ghaddah merasa, betapa seorang ahli fikih pada zaman dulu mampu memprediksikan dan membahas kasus-kasus lalu menjelaskan hukumnya. Sebuah langkah besar yang tentu memerlukan kesungguhan dan ketelatenan. Konkretnya, tema ini sengaja dipilih oleh Abu Ghaddah tatkala tempatnya mengajar memberikan amanat kepadanya untuk mem berikan pelajaran dan ceramah umum pada Fakultas Syariah di Universitas Ibnu Su’ud, Riyadh. Tema utama yang mesti dikupas dalam ceramahnya tersebut sepu tar kondisi saat para ulama dan cendekiawan Muslim masa dulu sewaktu mencari ilmu. Abu Ghaddah mengelompokkan bentuk kesungguhan para ulama dalam dunia keilmuan ke dalam enam aspek yang berbeda. Pertama, ia mengelompokkan kisah-kisah ke tangguhan para ulama untuk melakukan “wi sata ilmu” atau rihlat fi thalab al ilm. Ke dua, ia menceritakan tentang keseriusan pa ra ulama dengan meninggalkan segala ben tuk kenikmatan, baik tidur di waktu siang dan malam hari, maupun rasa nikmat lainnya. Ketiga, kesabaran dan penerimaan mereka terhadap kondisi perekonomian dan sulitnya hidup. Keempat, Abu Ghaddah menceritakan ketangguhan para ulama untuk menahan lapar dan dahaga selama menuntut ilmu. Kelima, para ulama yang kehabisan bekal dan ongkos saat menuntut ilmu dan perjuangan mereka dalam keterasingan. Keenam, mengisahkan tentang kesulitan yang dialami oleh para ulama tatkala buku mereka raib atau hilang, dicuri, serta terbakar. Bersusah payah Selain menceritakan kisah perjalanan Jabir Abdullah, dalam kitabnya, Abu Ghaddah juga mengutip cerita Ali bin al-Hasan bin Syaqiq yang mengisahkan perjuangannya saat menimba ilmu kepada gurunya bernama Abdullah bin al-Mubarok. Ali mengungkapkan, ia sering kali tak tidur di malam hari. Pernah suatu ketika, sang guru mengajaknya ber- muzakarahketika malam di pintu masjid. Padahal, saat itu cuacanya sangat tidak bersahabat. Udara dingin menusuk tulang. Ia bersama sang guru berdiskusi sampai waktu fajar tiba, tepat saat muazin mengumandangkan azan. Kegigihan lainnya ditunjukkan oleh Abdurahman bin Qasim al-Utaqa al-Mishr, seorang sahabat Malik dan Laits. Tiap kali menemukan persoalan dan hendak mencari jawabannya dari Malik bin Anas, dia mendatangi Malik tiap waktu sahur tiba. Agar tak kecolongan, Ibnu al-Qasim tiba sebelum waktu sahur. Tak jarang Ibnu al-Qasim membawa bantal dan tidur di depan rumah Malik. Bahkan, karena terlalu lelap tidur, Ibnu al-Qasim sering tidak mengetahui bahwa Malik telah keluar rumah menuju masjid. Suatu ketika, kejadian itu terulang sampai pembantu Malik menendangnya dan berkata, “Gurumu telah keluar meningalkan rumah, tidak seperti kamu yang tertidur.” Seorang hakim terkemuka dari Mesir, Abdullah bin Lahiah, punya kisah tersendiri. Ia dikenal sebagai ahli hadis yang banyak mempunyai riwayat. Pada 169 H, ia tertimpa musibah. Buku-buku catatannya terbakar. Peristiwa ini cukup memukul Ibnu Lahiah. Betapa tidak, akibat kejadian itu, ingatan dan kekuatan hafalan hadisnya mulai berkurang. Sejak saat itu, banyak terdapat kesalahan dalam keriwayatannya. Sebagian pakar dan ahli hadis menyimpulkan, riwayat-riwayat yang diperoleh dari Ibnu Lahiah sebelum peristiwa terbakarnya buku-buku itu dianggap lebih kuat jika dibandingkan dengan riwayat yang diambil dari Ibnu Lahiah pascakebakaran tersebut. Merasa prihatin dengan kejadian itu. Al-Laits bin Sa'ad al-Mishri memberi uang sebesar dinar koin emas kepada Ibnu Lahiah. Namun, bagi para ulama, uang tak dapat menggantikan buku yang berarti sahabat dan teman hidup bagi mereka. home menuntut ilmu Muslimah Senin, 30 Januari 2023 - 0705 WIB Pendidikan bagi wanita dalam Islam sangat ditekankan. Dalam Al-Quran dan Hadis tidak ada larangan menuntut ilmu bagi kaum wanita. Bahkan Islam mewajibkan wanita menuntut ilmu. Hikmah Minggu, 09 Oktober 2022 - 1450 WIB Kisah Abu Bakr ibnu Dulaf ibnu Jahdar asy-Syibli membeli ilmu dari Abul Qasim al-Junaid diambil dari buku The Revelation of the Veiled. Ini adalah tentang kisah masa belajar asy-Syibli di bawah al-Junaid. Tausyiah Sabtu, 17 September 2022 - 1404 WIB Dalam Islam, kesuksesan mencari ilmu bisa diukur melalui sejauh mana ilmu yang diperolehnya memiliki keberkahan dan manfaat baik bagi diri sendiri atau orang lain. Tausyiah Rabu, 31 Agustus 2022 - 1254 WIB Seorang muslim harus punya target dalam hidupnya. Hindari hidup yang mengalir begitu saja karena sesuatu yang mengalir pasti mengalir dari atas ke bawah. Karena itu harus semangat dan punya target dalam hidup. Tips Selasa, 23 Agustus 2022 - 1648 WIB Keberkahan ilmu yang diperoleh akan diketahui dari peningkatan amal shaleh pada diri seorang muslim. Jika sudah dapat ilmu tapi tidak berbekas pada diri kita, bisa jadi, itu adalah tanda kita tidak mendapat keberkahan ilmu. Tausyiah Minggu, 21 Agustus 2022 - 2318 WIB Bagi santri yang mendalami ilmu syariat Islam, perlu mengetahui hal-hal yang menjadi sebab memperoleh ilmu. Dalam syariat, menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Tausyiah Jum'at, 05 Agustus 2022 - 1500 WIB Orang yang berbicara dalam agama ini dengan tanpa ilmu, menjadi penyebab utama munculnya berbagai penyimpangan -penyimpangan dalam agama. Begini penjelasannya. Tausyiah Minggu, 19 Juni 2022 - 1750 WIB Tuntulah ilmu sekalipun di negeri China. Begitu kalimat yang disebut banyak dai sebagai hadis. Para ulama ahli hadis justru menyebut kalimat tersebut bukan hadis. Muslimah Jum'at, 15 April 2022 - 1148 WIB Salah satu amalan yang dapat dilakukan perempuan yang sedang haid saat bulan puasa ini adalah mendengarkan kajian atau majelis taklim sebagai ikhtiar menuntut ilmu Hikmah Jum'at, 18 Februari 2022 - 1730 WIB Dikisahkan, seorang ulama berwudhu 17 kali dalam semalam demi mendapatkan cahaya ilmu. Kisah ini memberi kita pelajaran bahwa pentingnya menjaga wudhu. Tips Kamis, 13 Januari 2022 - 0854 WIB Beragam tipu daya setan untuk menggoda manusia banyak sekali, salah satunya dengan cara talbis dan ghurur. Talbis adalah menampakkan kebatilan dalam bentuk kebenaran,sedangkan ghurur adalah kejahilan. Tausyiah Selasa, 28 Desember 2021 - 2251 WIB ika ingin menjadi orang yang dicintai dan dimuliakan Allah Azza wa Jalla, maka jadilah seorang penuntut ilmu. Berikut alasan mengapa penuntut ilmu dimuliakan Allah. Tausyiah Jum'at, 10 Desember 2021 - 2322 WIB Abah Guru Sekumpul wafat 2005 adalah ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan. Berikut kalam beliau tentang ilmu yang patut kita jadikan iktibar. Hikmah Senin, 29 November 2021 - 2152 WIB Semangat Ulama Salaf terdahulu patut diapresiasi karena semangat mereka menimba ilmu. Mereka benar-benar luar biasa karena punya banyak guru yang jumlahnya mencapai ribuan. Tausyiah Kamis, 25 November 2021 - 2248 WIB Semasa masih nyantri dan hendak belajar kepada gurunya, Imam An-Nawawi memiliki akhlak dan kebiasaan mulia yang dapat kita tiru. Berikut akhlaknya. Muslimah Senin, 22 November 2021 - 1352 WIB Menuntut ilmu agama itu wajib bagi setiap kaum muslimin dan muslimat, lelaki maupun wanita, seperti yang disampaikan dalam sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Tips Jum'at, 08 Oktober 2021 - 1459 WIB Bacaan doa sebelum belajar dan sesudah belajar, sangat baik kita ajarkan kepada anak-anak. Doa-doa pendek ini, akan memudahkan, anak-anak kita dalam menerima pelajaran atau ilmu. Tausyiah Senin, 04 Oktober 2021 - 1537 WIB Ustaz Hamdan Nasution Attantisy mengatakan, Mencintai guru adalah sesuatu yang wajib. Namun, dicintai guru adalah sesuatu yang istimewa. Tausyiah Kamis, 30 September 2021 - 2242 WIB Bagaimana cara belajar Islam agar tidak salah jalan? Jawabannya sederhana, belajarlah sesuai ahlus sunnah yang benar dan ambillah ilmu dari guru bersanad dan bermazhab. Muslimah Minggu, 26 September 2021 - 0510 WIB Orang yang mengajarkan ilmu, menjadi seorang guru, baik guru dalam ilmu agama maupun ilmu dunia mempunyai keutamaan begitu besar. Sebaliknya orang yang enggan membagikan ilmu yang dimilikinya justru akan merugi.

kisah seorang penuntut ilmu